Dishub Tebingtinggi Tertibkan Angkot Pakai Reben Gelap

  • Whatsapp

Buananusantaraonline.com, Tebing Tinggi – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tebingtinggi melakukan razia penertiban khusus angkot yang menggunakan kaca reben gelap di kawasan jalan lintas perkotaan, Jumat (29/5).

Terpantau, penertiban itu disambut gembira oleh sebagian sopir angkot, sedangkan sopir-sopir pengguna reben gelap terlihat murung atas razia tersebut. Razia dilakukan demi mempertahankan Piala Wahana Tata Nugraha (WTN) tahun 2015.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Tebingtinggi H Syafrin Harahap SH melalui Kabid Angkutan Darat dan LLAJ Drs JB Hutapea kepada wartawan menyampaikan, penertiban itu menindaklanjuti surat edaran dari Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumut No: 550/509/2015 tertanggal 26 Pebruari 2015 tentang Pemberian Penghargaan Wahana Tata Nugraha (WTN).

Setiap daerah yang memiliki armada angkutan kota (angkot) harus segera melaksanakan pengawasan dan penertiban termasuk di Kota Tebingtinggi. “Kita setiap tahun selalu meraih Piala Wahana Tata Nugraha dan untuk mempertahankannya diharapkan agar para pengemudi atau sopir angkutan kota (angkot) tetap mematuhi peraturan atau aturan yang berlaku, salah satunya adalah dilarang menggunakan kaca reben gelap,” imbuhnya.

Selain memeriksa soal kaca reben, pihak Dinas Perhubungan Tebingtinggi juga akan melakukan penertiban seragam para pengemudi angkot. “Selain itu, setiap angkot juga harus memiliki stiker nama atau merk perusahaan angkutan, papan trayek, tarif ongkos serta warna kenderaan harus sesuai dengan nama perusahaan angkutan,” terangnya.

Pelaksanaan razia penertiban dadakan itu sempat membuat sopir angkutan kelabakan. Sebab banyak angkot yang menggunakan atau memakai kaca reben pada angkotnya tanpa ada izin resmi dan ada juga yang tidak memakai baju seragam yang telah diberikan, sehingga para sopir diharuskan pulang untuk memakai kembali baju yang telah diberikan sebelumnya untuk ketertiban bersama.

Salah seorang pengemudi angkot, Manulang mengaku tidak keberatan dengan penertiban tersebut karena memang hal itu sangat baik diterapkan demi ketertiban bersama, sedangkan pengemudi lainnya mengaku kecewa karena reben yang sudah terlanjur dipasang harus dibuka paksa oleh petugas.

“Sayang kali rebennya harus dibuka, padahal biaya untuk memasangnya lumayan mahal, menyesal aku pasang reben di angkotku,” keluh Rinto pula, salah seorang sopir angkot dengan nada murung. (WR)