Jual Upal Buat Pilkada,Alumni Mahasiswa IKJ Dibekuk Polsek Helvetia

  • Whatsapp

Buananusantaraonline.com, Medan.
Teshar Rianda (32),warga asal Jakarta terpaksa harus mendekam dibalik jeruji besi penjara.Pasalnya,mahasiswa lulusan Insititut Kesenian Jakarta (IKJ) ini dibekuk petugas Polsek Helvetia karena kedapatan mengedarkan uang palsu (upal).Tersangka diamankan ditempat kostnya di Jalan Kertas, Ayahanda Medan,Kamis (03/12/2015) sekira pukul 16.00 WIB.
Dari tangan tersangka disita barang bukti 125 lembar uang palsu pecahan 50.000, 1 unit printer, 1 unit laptop beserta charger dan mouse, 1 rim kertas, 2 bilah pisau, 1 penggaris, sebotol alkohol, 6 jarum suntik, 2 botol tinta printer, 1 flashdisk,dan 1 tas hitam.

“Penangkapan tersangka berawal adanya informasi yang diterima petugas mengenai adanya aktivitas penjualan uang palsu di wilayah hukum Polsek Helvetia.Menerima informasi itu lantas kita lakukan penyelidikan hingga anggota kita menyamar untuk membeli uang palsu pecahan 50.000 sebanyak 40 lembar atau 2.000.000,”ujar Kapolsek Helvetia,Kompol Ronny Bonic,Jumat (04/12/2015) kepada buananusantaraonline.com.
Kemudian,kata Bonic tersangka menyepakati harganya Rp 1 juta,kemudian dilakukan transaksi.

“Begitu anggota kita memastikan yang diterima benar-benar upal,lantaran agak sulit membedakannya dengan uang asli.Tersangka pun langsung kita tangkap di tempat kosnya,” jelas Bonic.

Berdasarkan hasil introgasi,tersangka bukan pemain baru dalam peredaran upal.Tersangka merupakan pemain lama sejak tahun 2006 di Jakarta. Setelah temannya tertangkap, dia melarikan diri dari tempat tinggalnya di Tebet Timur Dalam IV ke Sumateta Utara (Sumut)

“Tersangka yang kita ringkus ini merupakan spesialis pemain upal dan pemain lama dalam bidang peredaran upal,”jelas perwira tamatan Akpol 2003 ini.

Kepada polisi,sebut Bonic bahwa tersangka mengaku mengedarkan uang palsu di Medan sejak 4 bulan lalu. Dia sudah tiga kali menjualnya kepada orang lain, dengan total nominal mencapai 9.000.000. Dua lembar uang palsu nominal 50.000 ditukarnya dengan Rp 50.000.

Sementara itu tersangka mengaju bahwa uang palsu yang diedarkannya ada pemesan melalui perantara seorang tukang becak yang memesan empat bulan lalu Rp 500 juta untuk pilkada nanti. Mesannya sejak empat bulan lalu,” akunya.
Menurut alumni mahasiswa IKJ ini bahwa upal Rp 500 juta yang dipesan itu dibandrol seharga Rp 200 juta uang asli dan saya juga gunakan untuk beli narkoba.”Dipesan untuk Pilkada nanti,tapi saya gak tahu dari pasangan mana ,” jelasnya.

Soal adanya pesanan upal untuk Pilkada nanti,Boonic mengatakan masih mendalami pernyataan tersangka.
“Kita masih lakukan pendalaman terkait dugaan itu, yang jelas tersangka sudah tiga kali melakukan penjualan upal yakni Rp 5 juta, Rp 3 juta, dan Rp 1 juta. Selain itu tersangka juga memakai upal ini untuk kebutuhan sehari-harinya,”imbuh Bonic seraya menyebutkan bahwa tersangka dijerat dengan Pasal 36 ayat (1), (2), (3) UU No 7 Tahun 2011 Tentang Mata Uang dengan ancaman hukumannya 15 tahun penjara.(cos)