75 Tahun RI Dan Empat Refleksi Kehidupan Sosial

  • Whatsapp

buanapos.com-Tanggal 17 Agustus 2020  tepatnya Senin kemarin seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang ke 75 Tahun. Peringatan ini dilaksanakan tidak hanya dari halaman Istana Negara di Jakarta, atau dilapangan Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota, Kecamatan dan Desa, tetapi juga dilaksanakan didasar laut dipimpin Kolonel (L) Galkoriansyah di Selat Sunda sampai di puncak gunung yaitu Gunung Spikul Sukoharjo Jawa Tengah oleh Tim SAR Sukoharjo, termasuk di Kawasan Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang dilaksanakan Suku Anak Dalam Desa Anak Garo, Kec. Muaro Tabir, Kab. Tebo Provinsi Jambi.

75 tahun Kemerdekaan RI dengan merefleksi sejarah telah banyak pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota, Kecamatan dan Desa sesuai cita-cita nasional yaitu negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur sesuai alinea ke – 2 Pembukaan UUD 1945.

Bacaan Lainnya

Menurut Drs Syaiful Syafri MM Mantan Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara didalam perjalanan sejarah semakin banyak keberhasilan pembangunan maka semakin banyak pula harapan harapan masyarakat kepada pemerintah. Karena masih ada permasalahan kesejahteraan sosial yang ditemukan di masyarakat sehingga masih banyak orang melakukan keritikan kepada pemerintah.

Keritikan beraneka ragam pula, ada yang dengan sengaja seolah-olah pemerintah tidak berbuat dan lebih parah membuat ceritra Hoax. Ada juga dengan mengambil jalan pintas melalui gerakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sebagaimana yang terjadi di Papua.

Kedua sikap ini harus kita antisipasi dan harus ditangani secara hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku agar Kamtibmas yang kondusif tetap terpelihara, apalagi ditengah Pandemi Covid-19 yang masih berlanjut.

Masalah sosial lain yang perlu ditangani kata Mantan Pejabat Bupati Batu Bara Syaiful Syafri adalah masalah penerangan, karena menurut Budi Arie Wakil Menteri Desa PDTT  sampai 11 Maret 2020 yang lalu ada 15.000 Kepala Keluarga dari 433 Desa yang belum menikmati aliran listrik yaitu 325 kampung di Papua, 102 kampung di Papua Barat, 5 Desa di NTT, Maluku ada 1 Desa.

Namun berdasarkan berita Inews 17/08 ternyata Desa Naga Timbul, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumut, bahwa Desa yang berdiri 1960 ini sampai HUT RI ke 75 tahun tanggal 17 Agustus 2020 belum dialiri listrik dan masyarakatnya masih menggunakan lampu teplok.
Ini juga satu masalah sosial yang perlu kita sikapi dalam rangka mewujudkan keadilan dan kemakmuran itu.

Sisi lain Komunitas Adat Terpencil (KAT) juga sangat berharap kepada pemerintah, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI agar hutan adat yang menjadi mata pencaharian masyarakat agar di pertahankan dari tangan-tangan pengusaha yang membalak secara liar.

Karenanya kita sangat bangga jika para keritikus mulai ikut koreksi diri, apakah kita sudah berbuat untuk kepentingan masyarakat kita, berikanlah kesempatan agar pemerintah merencanakan dan melaksanakan pembangunan sesuai tujuan dan cita-cita nasional. Mari kita ajak para KKB pulang ke pangkuan ibu pertiwi, dan mari kita dorong pemerintah, swasta dan para ilmuan kelistrikan masuk ke desa-desa yang belum menerima penerangan dengan memberdayakan potensi air, udara, matahari, dan lain-lain yang tersedia bisa membuat penerangan desa
(khairil)

Pos terkait