Ribuan Massa Kepung Kantor Wali Kota Medan, Tolak Surat Edaran Dinilai Diskriminatif terhadap Pedagang Daging Babi

Medan8 Dilihat

MEDAN – Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat pedagang dan konsumen daging babi menggelar aksi damai di depan Kantor Wali Kota Medan, Kamis (26/2/2026), mulai pukul 14.00 WIB.

Massa menilai surat edaran tersebut bersifat diskriminatif dan rasis karena secara spesifik menyasar pedagang daging non-halal. Mereka menegaskan, jika alasan pemerintah adalah penataan dan kebersihan pasar seperti Pajak Sei Sikambing dan Pajak Sukaramai, maka penataan harus dilakukan secara menyeluruh tanpa tebang pilih.

“Kalau mau ditata dan dibersihkan, bersihkan semuanya. Jangan hanya satu jenis pedagang yang disasar,” tegas perwakilan massa dalam orasinya.

BACA  Sambut Imlek dengan Berbagi, Dr Lily Serahkan Bantuan Kursi Roda untuk Penyandang Disabilitas di Medan

Massa aksi, yang terdiri dari berbagai kelompok, termasuk Horas Bangso Batak (HBB), GAMKI, Pemuda Batak Bersatu (PBB), bergabung dengan masyarakat Adat Batak Toba, Karo, dan Nias, dengan membawa spanduk, melakukan orasi menuntut kejelasan dan transparansi terkait Surat Edaran Walikota Medan tersebut.

Isu Lalu Lintas dan Limbah Dipertanyakan

Terkait dalih gangguan lalu lintas karena berjualan di trotoar dan badan jalan, massa menyebut sebagian besar pedagang justru berjualan di dalam atau di depan rumah sendiri. Bahkan disebutkan ada warga yang menangis dan di tangkap karena tetap dilarang berjualan meskipun berada di dalam rumahnya.

BACA  Lagi, Polsek Patumbak Grebek Warung Pak Kulit Hasilnya Zonk

Hal ini dinilai sebagai bentuk kebijakan yang tidak proporsional dan melanggar hak masyarakat untuk mencari nafkah.

Soal isu limbah, massa mempertanyakan dasar argumentasi pemerintah. Mereka menyebut limbah paling berbahaya adalah limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) seperti oli, bahan kimia, dan limbah medis yang berisiko tinggi bagi kesehatan.

“Jangan alihkan perhatian dengan isu limbah yang tidak berdasar,” ujar salah satu orator.

BACA  Korupsi Waterfront City Danau Toba: Konsultan Pengawas Menyusul Masuk Penjara

Soroti Skala Prioritas Pemko Medan

Aliansi juga menyoroti skala prioritas Pemerintah Kota Medan. Menurut mereka, kota saat ini menghadapi persoalan serius seperti banjir yang telah memakan korban jiwa, maraknya begal yang meresahkan hingga menyebabkan kematian, serta kemacetan yang tak kunjung terurai. Namun, yang justru diprioritaskan adalah kebijakan yang dinilai memicu gesekan sosial dan mengancam mata pencaharian warga.

Aksi berlangsung damai dengan pengawalan aparat keamanan. Massa menyatakan akan terus mengawal kebijakan ini hingga tuntutan pencabutan sepenuhnya dipenuhi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *