JAKARTA – Peta kemiskinan dan ketertinggalan di Indonesia masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Dari 30 kabupaten berstatus daerah tertinggal yang tersebar di seluruh penjuru negeri, hanya satu yang berada di kawasan barat Indonesia. Satu nama itu adalah Kabupaten Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara.
Fakta mengejutkan ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal yang digelar di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Pertemuan strategis ini menjadi momentum evaluasi sekaligus akselerasi bagi daerah-daerah yang masih berjuang keluar dari jerat status tertinggal.
Di tengah hiruk-pikuk birokrasi yang kerap diwarnai perwakilan, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, tampil beda. Dari delapan gubernur yang diundang, hanya dirinya yang hadir secara fisik.
Tujuh lainnya memilih mengirim perwakilan. Langkah ini langsung mendapat sorotan positif dari pemerintah pusat.
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, secara terbuka mengapresiasi kehadiran menantu Presiden ke-7 RI itu.
“Ini bentuk keseriusan. Saya apresiasi Gubernur Sumatera Utara yang hadir langsung mengawal Nias Utara. Ini satu-satunya daerah tertinggal di wilayah barat, dan kita harus dorong bersama agar segera keluar dari status itu,” ujar Yandri dengan nada optimistis di hadapan para peserta rapat.
Yandri memaparkan fakta pahit yang dialami 30 kabupaten tertinggal hampir 90 persen anggaran mereka masih bergantung pada dana transfer pusat. Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih sangat minim, membuat ruang fiskal sempit dan inovasi pembangunan terhambat.
“Karena PAD kecil, intervensi pusat dan provinsi menjadi penentu. Tanpa itu, daerah tertinggal akan sulit beranjak,” tegasnya.
Lantas, apa yang membuat Nias Utara istimewa? Bukan hanya statusnya sebagai satu-satunya daerah tertinggal di barat Indonesia, tapi juga potensi ekonominya yang menganggur.
Kementerian Desa mencatat, Nias Utara memiliki komoditas unggulan yang sebenarnya bisa menjadi lokomotif ekonomi kelapa ukuran jumbo. Namun, ironisnya, potensi ini belum tergarap maksimal karena keterbatasan infrastruktur dasar.
“Kelapa di sana besar-besar, kualitas ekspor. Tapi kalau jalannya rusak, akses logistik terhambat, ongkos produksi tinggi, investor pun kabur. Itu masalah klasik yang harus kita putus rantainya,” jelas Yandri.
Ia menambahkan, pemerintah pusat saat ini tengah memetakan ulang skema intervensi agar pembangunan infrastruktur di Nias Utara tidak lagi parsial, tetapi terintegrasi dengan pusat pertumbuhan ekonomi.
Momen haru sekaligus bangga terpancar dari sambutan Bupati Nias Utara, Amizaro Waruwu. Dalam rapat tersebut, ia ditunjuk sebagai koordinator seluruh bupati daerah tertinggal se-Indonesia.
Di hadapan para pejabat pusat, Amizaro secara khusus menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Bobby Nasution.
“Gubernur kami adalah orang tua kami. Kami merasakan betul komitmen beliau. Beliau bahkan beberapa kali berkantor di Nias untuk memastikan pembangunan berjalan. Ini bukan sekadar janji, tapi aksi nyata,” ungkap Amizaro dengan suara bergetar.
Ia menyebut dua bukti konkret keberpihakan Pemprov Sumut:
1. Perjuangan Anggaran TKD
Bobby Nasution secara agresif menjaga agar Transfer ke Daerah (TKD) Provinsi Sumut dan Kabupaten Nias Utara tidak dipotong di tingkat pusat.
2. Dukungan Rp300 Miliar
Pemprov Sumut mengucurkan dana signifikan sebesar Rp300 miliar khusus untuk pengembangan Kepulauan Nias, yang sebagian besar dialokasikan untuk infrastruktur konektivitas antarwilayah.
Tak hanya infrastruktur fisik, Amizaro juga memuji program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah keterbatasan gizi masyarakat Nias Utara, program ini disebutnya bagaikan “emas”.
“Dampaknya langsung terasa. Anak-anak sekolah dapat asupan bergizi, orang tua terbantu. Ini program yang sangat manusiawi dan menyentuh akar masalah,” puji Amizaro.
Rapat koordinasi ini menghasilkan kesimpulan tegas Nias Utara harus keluar dari status daerah tertinggal dalam waktu dekat. Kuncinya ada pada tiga hal: keberpihakan anggaran berkelanjutan, pembangunan infrastruktur yang masif, dan konsistensi pengawalan kebijakan dari pusat hingga daerah.
Dengan hadirnya Bobby Nasution di barisan terdepan, harapan itu kini bukan lagi sekadar mimpi. Nias Utara bergerak, Sumut bangkit, Indonesia merata! (FD)