Buntut Dugaan Keracunan 385 Siswa di Mojokerto, FKMPP Desak Prabowo Evaluasi Kepala BGN

MEDAN – Munculnya kasus dugaan keracunan makan bergizi gratis (MBG) di Kota Mojokerto, mengundang perhatian dari Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Pendidikan (FKMPP). Organisasi masyarakat ini pun mendesak Presiden Prabowo untuk mengevaluasi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

 

Menurut Ketua Umum FKMPP Bachtiar SH, persoalan keracunan yang dialami siswa penerima program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sudah kerap terjadi, dan teranyar dialami 385 siswa SDN dan SMA.

 

“Melihat seringnya terjadi siswa keracunan usai mencicipi menu MBG, seharusnya pemerintah mengambil sikap tegas. Tutup SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dan Dapur-dapur MBG yang diduga memproduksi makanan beracun,” ungkap Bachtiar.

 

Ia juga menilai, seringnya terdengar kasus siswa keracunan dikarenakan lemahnya pengawasan oleh lembaga BGN yang dinakhodai Dadan Hindayani.

 

“Jadi kami menilai kinerja Kepala BGN kurang memuaskan, sehingga menimbulkan banyak permasalahan di lapangan. Untuk itu FKMPP meminta kepada Bapak Presiden Prabowo untuk mengevaluasi kinerja Kepala BGN. Jangan sampai program yang tujuan untuk mencerdaskan siswa malah yang terjadi sebaliknya (membinasakan),” desak Bachtiar.

 

Dugaan Korupsi

 

Bachtiar juga menyatakan, telah terjadi dugaan korupsi dalam proses produksi pengadaan menu MBG, sehingga seringnya muncul persoalan keracunan.

 

Untuk itu, ia juga mendesak aparat penegak hukum agar turun tangan menyelidiki penggunaan anggaran program MBG yang menghabiskan dana Rp335 triliun untuk tahun 2026.

 

“Kita juga mendesak APH juga melakukan pengawasan dan menyelidiki aliran dana ke SPPG maupun Dapur-dapur MBG, apakah ada praktik-praktik korupsi yang terjadi, seperti membeli bahan baku yang sudah kadaluarsa untuk memperoleh keuntungan yang besar,” sebut Bachtiar.

 

385 Siswa Keracunan

 

Seperti diberitakan, sejumlah siswa SDN dan SMA di Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, mengaku mengalami muntah dan diare akhir pekan lalu.

 

Salah seorang wali murid SMAN 2 Mojokerto mengatakan, anaknya mengalami diare dan muntah-muntah sejak Jumat (16/1). Kondisi itu berlangsung selama tiga hari hingga Minggu (18/1).

 

Menurutnya, gejala serupa turut dialami banyak siswa lainnya. “Di grup WA banyak yang bilang juga diare, tidak satu anak saja,” ungkapnya.

 

Hingga Senin (19/1), terdapat siswa yang belum masuk sekolah. Menurutnya, ada pula siswa yang kini masih menjalani perawatan di fasilitas layanan kesehatan.

 

“Kalau anak saya sudah masuk sekolah lagi, minum obat sendiri di rumah,” tandas dia.

 

Informasi yang dihimpun, dugaan keracunan MBG juga dialami sejumlah siswa di SDN Wates 5 hingga SDN Wates 6. MBG tersebut disalurkan SPPG Wates.

 

Sesuai informasi di akun medsos SPPG, menu MBG pada Kamis (15/1) berupa nasi putih, tumis sawi wortel, tahu tempe balado, ayam goreng ungkep, dan kelengkeng.

 

Jumlah porsi hari itu mencapai 3.997 porsi untuk 20 kelompok penerima meliputi lembaga sekolah dan posyandu.

 

Sementara itu, Satgas MBG Wates Didik membenarkan adanya insiden tersebut. Kendati demikian, ia belum bisa memastikan jika keracunan yang dialami anak-anak itu disebabkan oleh menu MBG yang disantap.

 

“Belum bisa memastikan apakah dari menu MBG, karena kita nyuplai-nya dari Kamis (15/1), tapi anak-anak keluhan mulai Sabtu (17/1) sore,” ungkapnya.

 

Pihaknya menyatakan, dugaan sementara anak-anak mengonsumsi susu kemasan yang disuplai oleh SPPG. “Dugaan sementara karena susunya, tapi imun anak-anak juga mempengaruhi,” ulasnya.

 

Meski insiden tersebut terjadi, pihaknya menyatakan pengiriman MBG masih tetap berjalan seperti biasa di sekolah-sekolah.

 

“Cuma untuk menu kita ganti dengan menu kering dulu sementara waktu, untuk antisipasi,” tandasnya. Hingga berita ini ditulis, Kepala Dinkes PPKB Kota Mojokerto Achmad Rheza belum bisa dikonfirmasi. (red)