Dorong UMKM Go Digital, KKN UINSU Dampingi Pelaku Usaha Sei Bamban Buat QRIS dan Titik Google Maps

News6 Dilihat

LANGKAT – Kelompok 15 KKN UINSU 2026 melaksanakan program kerja pendampingan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Sei Bamban, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, pada 18–19 Agustus 2026, ini bertujuan mendorong pelaku usaha lokal agar semakin mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital melalui pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) serta penambahan titik lokasi usaha pada Google Maps.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN UINSU dalam mendukung penguatan ekonomi masyarakat desa melalui pemanfaatan teknologi digital.

Program tersebut dilaksanakan di bawah pendampingan dan arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. H. Farhan Indra, MA., yang turut memberikan arahan kepada mahasiswa agar program kerja yang dilaksanakan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Sei Bamban.

Digitalisasi dipandang menjadi salah satu langkah yang dapat membantu UMKM mengikuti perkembangan pola transaksi dan kebutuhan masyarakat. Melalui QRIS, pelaku usaha dapat menyediakan alternatif pembayaran non-tunai bagi pelanggan, sementara pencantuman lokasi usaha di Google Maps dapat membantu masyarakat menemukan lokasi usaha dengan lebih mudah.

 

Pada hari pertama, 18 Agustus 2026, sebanyak lima mahasiswa KKN turun langsung ke lapangan untuk melakukan pendataan sekaligus pendekatan kepada pelaku usaha di Desa Sei Bamban.

Mahasiswa mendatangi usaha masyarakat satu per satu secara door to door, memperkenalkan program, menjelaskan manfaat digitalisasi usaha, serta menawarkan pendampingan dalam pembuatan QRIS dan penambahan titik lokasi usaha di Google Maps.

BACA  Satresnarkoba Polrestabes Medan Ungkap 128 Pod Getar di Hotel

Pendekatan secara langsung tersebut dilakukan agar mahasiswa dapat memahami kondisi dan kebutuhan masing-masing pelaku usaha. Dalam pelaksanaannya, tidak seluruh usaha yang didatangi bersedia mengikuti program.

Sebagian pelaku usaha menerima dengan baik dan antusias, sementara beberapa lainnya memilih untuk tidak terlibat karena memiliki pertimbangan tertentu.

Salah satu alasan yang ditemukan adalah anggapan bahwa penggunaan QRIS belum terlalu diperlukan karena sebagian besar pelanggan usaha tersebut merupakan ibu-ibu yang masih terbiasa melakukan transaksi secara tunai.

Selain itu, terdapat pula pelaku usaha yang merasa kesulitan untuk mengikuti perkembangan teknologi karena faktor usia. Mereka menganggap proses penggunaan teknologi baru cukup rumit dan khawatir akan mengalami kesulitan dalam mengoperasikannya.

Mahasiswa kemudian berupaya memberikan penjelasan secara sederhana dan persuasif mengenai manfaat yang dapat diperoleh dari digitalisasi usaha.

Pendampingan dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan dan kondisi masing-masing pelaku usaha sehingga teknologi yang diperkenalkan tidak dianggap sebagai sesuatu yang menyulitkan.

Dalam proses tersebut, mahasiswa juga menemukan adanya kekhawatiran lain dari salah seorang pemilik warung kelontong terkait pencantuman lokasi usaha di Google Maps.

Pemilik usaha tersebut merasa khawatir bahwa keberadaan usahanya di platform digital dapat membuat usahanya lebih mudah diketahui atau terdata oleh pemerintah dan kemudian berdampak terhadap kewajiban pajak.

BACA  56 Tahun Sharp Indonesia Ajak Masyarakat Berlari untuk Masa Depan Lewat Run for the Future

Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu temuan menarik selama pelaksanaan program. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan digitalisasi UMKM di tingkat desa tidak hanya berkaitan dengan keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga menyangkut pemahaman dan persepsi masyarakat terhadap teknologi digital.

Mahasiswa berusaha memberikan penjelasan mengenai tujuan kegiatan dan manfaat pencantuman lokasi usaha di Google Maps sebagai sarana untuk meningkatkan visibilitas usaha di tengah masyarakat.

Setelah melakukan pendekatan kepada berbagai pelaku usaha, sebanyak 10 usaha bersedia mendapatkan pendampingan untuk pembuatan QRIS sekaligus penambahan titik lokasi usaha di Google Maps.

Sementara itu, lima usaha lainnya bersedia mendapatkan bantuan khusus untuk penambahan titik lokasi usaha di Google Maps. Dengan demikian, sebanyak 15 usaha masyarakat berhasil dijangkau dalam program pendampingan digitalisasi UMKM yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UINSU.

Pada hari kedua, 19 Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian hasil cetakan QRIS kepada pelaku usaha yang telah mengikuti proses pendampingan.

Mahasiswa menyerahkan QRIS kepada pemilik usaha sekaligus memberikan penjelasan mengenai penggunaannya.

Selain itu, mahasiswa juga melakukan dokumentasi bersama para pelaku usaha sebagai bagian dari dokumentasi kegiatan dan bentuk apresiasi atas partisipasi masyarakat dalam program tersebut.

Pelaksanaan kegiatan selama dua hari ini memperlihatkan bahwa proses digitalisasi UMKM di tingkat desa membutuhkan pendekatan yang komunikatif dan bertahap.

BACA  Jampidsus Bantah Terlibat Terkait Geledah Kafe de'Clan Signature di Cipete

Setiap pelaku usaha memiliki tingkat pemahaman teknologi, kebutuhan, serta pertimbangan yang berbeda. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya berfokus pada penyelesaian teknis pembuatan QRIS dan Google Maps, tetapi juga berupaya membangun komunikasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Melalui program ini, KKN UINSU berharap pelaku usaha di Desa Sei Bamban dapat mulai memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari pengembangan usaha.

Kehadiran QRIS diharapkan memberikan alternatif transaksi yang lebih praktis bagi pelanggan, sedangkan pencantuman lokasi usaha di Google Maps diharapkan dapat meningkatkan kemudahan akses dan visibilitas UMKM sehingga lebih mudah ditemukan oleh masyarakat.

Program pendampingan digitalisasi UMKM ini menjadi salah satu bentuk implementasi semangat “UINSU Berdampak”, khususnya dalam mendorong penguatan aspek kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi lokal.

Dengan langkah sederhana melalui pemanfaatan QRIS dan Google Maps, mahasiswa KKN UINSU berupaya membantu pelaku usaha Desa Sei Bamban untuk mulai beradaptasi dengan ekosistem digital dan membuka peluang yang lebih luas bagi perkembangan usaha mereka.

Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pembuatan QRIS dan pencantuman lokasi usaha semata, tetapi menjadi langkah awal bagi pelaku UMKM Desa Sei Bamban untuk terus meningkatkan kemampuan digital, memperluas jangkauan pasar, dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan. (Red)