FJPI Suarakan Kebebasan Pers melalui Seni

News15 Dilihat

 

MEDAN- Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) suarakan kebebasan pers melalui gelaran Semarak Budaya, Senin (4/5/2026).

Kegiatan yang digelar di Taman Budaya Jalan Perintis Kemerdekaan itu sebagai bentuk refleksi terhadap kebebasan pers yang saat ini semakin dipersempit dengan berbagai jerat regulasi.

Para insan pers diajak untuk berinovasi dalam ruang kreatif, menciptakan konsep performance journalism sehingga dapat menyuarakan fakta dengan berbagai medium.

Semarak Budaya bertema ‘Dari Ruang Redaksi ke Panggung Teater: Merawat Kebebasan Pers Lewat Seni’ yang digelar  ini sekaligus  memeringati Hari Kebebasan Pers Sedunia.

Ketua Umum FJPI Khairiah Lubis dalam sambutannya menyampaikan kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi insan pers di tengah menurunnya indeks kebebasan pers di Indonesia.

Dalam tiga tahun terakhir, peringkat kebebasan pers Indonesia dari data Reporter Without Borders (RSF), mengalami penurunan dari posisi 108 pada 2023 menjadi 129 pada 2026 dari total 180 negara.

BACA  Ops Keselamatan Toba-2026 Polres Labuhanbatu Tekankan Keselamatan Pengemudi dan Penumpang

Kondisi ini juga diwarnai dengan meningkatnya ancaman dan teror terhadap jurnalis, termasuk jurnalis perempuan.

“Momentum Hari Kebebasan Pers Sedunia menjadi pengingat bagi kita semua untuk melihat sejauh mana kebebasan berekspresi dapat dijalankan tanpa tekanan dan tanpa praktik self-censorship,” ujarnya.

FJPI mencoba menghadirkan alternatif penyampaian informasi melalui seni dan budaya, salah satunya teater.

Pendekatan ini dinilai mampu menyampaikan pesan jurnalistik secara lebih kreatif, menyentuh emosi, sekaligus menjadi sarana edukasi yang hidup bagi masyarakat.

Sejak 2024, FJPI telah mengembangkan konsep ini, termasuk mengangkat isu beban ganda jurnalis perempuan.

Pada Maret 2026, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, FJPI juga menggelar pementasan teater bertema bencana yang hasil penjualan tiketnya disalurkan untuk membantu masyarakat di Aceh Tamiang dan Tapanuli Tengah.

Khairiah juga mengucapkan apresiasi dan terima kasih kepada Sofyan Tan atas dukungan yang konsisten terhadap kegiatan FJPI, termasuk dalam terselenggaranya kegiatan Semarak Budaya.

BACA  Giat Sosialisasi Peningkatan Kepatuhan Keselamatan Transportasi dan Pajak Kendaraan di Kecamatan Percut Sei Tuan

“Terima kasih kepada Bapak Sofyan Tan yang telah memberikan kesempatan dan dukungan penuh terhadap kegiatan Semarak Budaya ini,” katanya.

Dukungan ini sangat berarti untuk terus bergerak menghadirkan ruang-ruang kreatif bagi jurnalis, khususnya jurnalis perempuan

Anggota Komisi X DPR RI,Sofyan Tan  menyampaikan pentingnya peran pendidikan dalam mengubah kondisi sosial masyarakat, termasuk mengentaskan kemiskinan.

“Saya memang seorang dokter, tetapi ingin berjuang mengubah manusia dari kemiskinan melalui pendidikan,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi penampilan pembacaan puisi oleh seniman muda Rindy Riyani dan fotografer Mafa Yulie, pada pembukaan acara.

Sofyan Tan secara langsung menawarkan kesempatan kepada Rindy untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi Setya Bhinneka melalui program beasiswa KIP.

Kesempatan sama, Ketua Medan Teater Tronik, Hafiz Taadi, turut menyoroti kesamaan antara dunia teater dan jurnalistik.

BACA  Penampakan Jet 'Jadul' Iran F-5 Penghancur Pangkalan AS di Kuwait

Ia menyebut keduanya memiliki “dua mata pisau” sebagai alat untuk membedah realitas.

“Dunia teater dan dunia jurnalis sama-sama memiliki pisau bedah untuk mengupas realitas, hanya cara penyampaiannya yang berbeda,” ungkapnya.

Ketua FJPI Sumut, Khairunnisak Lubis, turut menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Semarak Budaya yang digagas FJPI Pusat dan melibatkan FJPI Sumut sebagai peserta acara.

Menurutnya kolaborasi lintas pihak yang menghadirkan ruang ekspresi sekaligus ruang belajar bagi masyarakat, khususnya perempuan jurnalis dan pegiat literasi budaya memang harus terus ditingkatkan.

Menurut dia, Semarak Budaya ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang penting untuk merawat ingatan kolektif

Selain itu kegiatan ini juga memperkuat identitas budaya, sekaligus mendorong jurnalis perempuan agar lebih peka dan produktif dalam mengangkat isu-isu kebudayaan. ( swisma)