Masyarakat Sumut Gelar Aksi Penolakan Pencopotan Ijeck dari Ketua Golkar Sumut

MEDAN – Simpatisan dan masyarakat Sumatera Utara menggelar aksi seruan moral dengan membubuhkan tanda tangan pada spanduk berwarna kuning putih di depan Masjid Raya Al-Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Jumat siang (2/1/2026).

 

Aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap pencopotan Musa Rajekshah alias Ijeck dari jabatan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Sumatera Utara.

 

Peserta aksi berkumpul secara tertib di halaman depan Masjid Raya Al-Mashun sebelum secara bergantian menandatangani spanduk sebagai simbol pernyataan sikap moral. Aksi berlangsung damai, kondusif, dan tidak mengganggu arus lalu lintas di sekitar lokasi.

 

Seruan moral ini mendapat respons positif dari masyarakat. Sejumlah warga yang melintas ikut berhenti dan membubuhkan tanda tangan di spanduk berwarna kuning dan putih bergambarkan Musa Rajekshah dan logo berlambang Partai Golkar.

 

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Ijeck, dan warga menilai aksi tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga demokrasi yang jujur, adil, dan berkeadaban.

 

Koordinator aksi, yang juga Ketua Angkatan Muda Majelis Dakwah Islamiyah (AMMDI) Sumut, Hairul Indra atau akrab disapa Heru, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan wujud keprihatinan rakyat atas keputusan DPP Partai Golkar yang mencopot Ijeck dari jabatan Ketua DPD Golkar Sumut.

 

Pencopotan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan bernomor Skep-132/DPP/GOLKAR/XII/2025, yang menetapkan Ahmad Doli Kurnia sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Golkar Sumut. Surat tersebut ditandatangani Ketua Umum DPP Golkar Bahlil Lahadalia dan Sekretaris Jenderal M. Sarmuji pada 14 Desember 2025.

 

Menurut Hairul, keputusan itu tidak mencerminkan aspirasi kader dan masyarakat yang selama ini menilai Ijeck sebagai sosok pemimpin yang bekerja maksimal dan menjaga soliditas partai di Sumatera Utara.

 

“Seruan moral ini kami sampaikan sebagai suara rakyat. Kami menilai pencopotan tersebut tidak adil dan berpotensi merusak iklim demokrasi serta stabilitas politik daerah,” ujarnya, yang disambut yel yel Ijeck dua periode.

 

Dia juga menyebut aksi damai ini jadi seruan mengajak masyarakat Sumut agar konsisten untuk memilih pemimpin masa depan yang lebih peduli kepada masyarakat.

 

Ia menegaskan, rakyat tidak akan diam terhadap setiap bentuk pemaksaan kehendak dan arogansi kekuasaan yang tidak sejalan dengan aturan dan etika demokrasi.(bj)