LLDikti Wilayah I Fasilitasi Kerja Sama dengan Google  Percepat Transformasi Digital  PTS Sumut

Edukasi3 Dilihat

MEDAN -Kesiapan digital perguruan tinggi swasta di lingkungan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I Sumatera Utara masih menghadapi tantangan besar.

Salah satu tantangan itu adalah biaya teknologi yang menjadi hambatan bagi Pergurian Tinggi Swasta ( PTS) di lingkungan LLDikti Wilayah I

Menyikapi hal itu I Prof Drs Saiful Anwar Matondang MA Ph.D selaku Kepala LLDikti Wilayah I  mengambil langkah berkolaborasi dengan  Google
menjembatani kerja sama antara Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Sumut di Hotel Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention, Selasa (5/5/2026).

Saat menjadi keynote speaker pada kegiatan bertajuk AI Learning Lab digelar Google for Education bekerja sama dengan Google Cloud itu, Saiful mengungkapkan adanya kesenjangan yang cukup lebar dalam transformasi digital.

Saat ini, katanya masih 59 persen dari 188 kampus di lingkungan LLDikti Wilayah I tercatat berada di tahap awal digitalisasi.

Pada fase ini, penggunaan teknologi masih sangat terbatas. Hal itu terlihat dari operasional yang masih bergantung pada email publik (pemanfaatan email non-institusi), belum tersedianya Learning Management System (LMS) formal, serta proses pelaporan yang masih dilakukan secara semi-manual.

“Hampir semua kampus belum memiliki LMS, padahal itu sangat bagus bagi mahasiswanya,” ujar Prof  Saiful.

BACA  Deputi Kemenkop RI di UMSU: KMP Solusi Konkret Tekan Kemiskinan

Dia menjelaskan, data tersebut mengindikasikan bahwa persoalan utama bukan semata pada ketersediaan teknologi.

Hambatan justru terletak pada kapasitas anggaran, kesenjangan kompetensi sumber daya manusia (SDM), serta resistensi budaya kerja, termasuk budaya disiplin, terhadap perubahan.

“Adanya kesenjangan kesiapan digital ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi yang beranggapan ada beban anggaran dalam digitalisasi,” tuturnya.

Ia pun berharap kolaborasi dengan pihak Google for Education akan membantu kampus untuk memudahkan segera bertransformasi digital.

Prof Saiful menegaskan PTS Sumut harus bisa menyesuaikan diri dengan transformasi digital, karena nantinya akan memudahkan dalam pekerjaan yang sebelumnya cukup menyita waktu jika dilakukan secara manual.

“Contoh, dosen yang akan menginput nilai mahasiswanya jika dilakukan dengan prosedur manual selama ini, akan memakan waktu,” ujarnya.

Digitalisasi diakui Saiful malah bisa menekan biaya atau anggaran. Sudah dua tahun belakangan ini ia menerapkan paperless.

Disebutkannya dengan mengurangi penggunaan kertas fisik dengan beralih ke dokumen digital, didukung teknologi seperti e-signature dan cloud storage di lingkungan LLDikti Wilayah I.

“Banyak manfaatnya seperti efisiensi waktu, penghematan biaya operasional, bahkan mampu menekan anggaran untuk biaya ATK dari Rp500 juta ke Rp50 juta,” ungkap Saiful

BACA  Inovasi Smart Bin, Siswa MAN 1 Deli Serdang Raih Duta Siswa Indonesia Pendidikan 2026

Pada kesempatan itu Prof Saiful juga menyoroti kampus yang berada di tahap awal digitalisasi dari sisi infrastruktur, masih beroperasi dengan bandwidth di bawah 30 Mbps.

Sementara itu, sekitar 30 persen kampus telah masuk ke tahap berkembang.

Pada fase ini, sistem akademik (SIAKAD) sudah tersedia, namun masih berjalan secara terpisah atau belum terintegrasi (silo).

Integrasi dengan PDDIKTI pun masih dilakukan secara setengah manual, dan penggunaan server lokal membuat sistem relatif rentan terhadap gangguan.

Di sisi lain, hanya kurang dari 10 persen perguruan tinggi yang telah mencapai tahap mapan dan lanjut.

Kampus dalam kategori ini umumnya telah mengadopsi arsitektur berbasis cloud, memiliki sistem yang terintegrasi penuh melalui API, serta didukung oleh Disaster Recovery Plan dan perlindungan siber tingkat lanjut.

“Infrastruktur jaringan mereka juga jauh lebih kuat, dengan bandwidth mencapai 1 Gbps atau lebih,” tuturnya.

Ia menjelaskan, gambaran ini menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor pendidikan tinggi swasta masih belum merata.

Saiful menyebutkan, hanya 15 kampus, terdiri dari 12 perguruan tinggi unggul, dan tiga kampus besar yang betul-betul mapan mengelola IT.

“Mereka investasinya sudah dari lima tahun yang lalu,” ucapnya.

Untuk itu diperlukan akselerasi, baik dari sisi infrastruktur, integrasi sistem, maupun penguatan keamanan digital, agar seluruh kampus mampu bersaing dan memberikan layanan pendidikan yang lebih optimal di era digital.

BACA  MPR Goes to Campus, Eddy Soeparno Dorong Mahasiswa UMSU Kembangkan Inovasi Energi Terbarukan

“Namun, untuk mengubah budaya santai ke disiplin itu sulit. Budaya kerja kita masih belum disiplin,” tukasnya.

Ia mengingatkan, percepatan transformasi digital membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif. Tidak hanya investasi teknologi, tetapi juga pembangunan budaya kerja adaptif dan peningkatan kualitas SDM secara berkelanjutan.

Prof Saiful berharap kegiatan AI Learning Lab ini dapat mencerminkan komitmen perguruan tinggi swasta dalam mempercepat transformasi digital, khususnya di wilayah Sumatera Utara.

Menurutnya kegiatan ini sangat bermanfaat sebagai wadah kolaborasi antara praktisi teknologi, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan secara optimal di sektor pendidikan.

Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya. Di antaranya adalah Tiffany Santosa selaku Program Manager Google for Education, yang berbagi wawasan terkait pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan.

Selain itu, hadir pula Khairil Irfan Lubis, Leader Divisi Konten dan Aplikasi UPT Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Negeri Medan (Unimed), yang membahas implementasi teknologi di lingkungan akademik.(swisma)