Bukan Tabungan Sampah Biasa: 248 Siswa di Batu Bara Ubah Botol Bekas Jadi Tas & Sepatu untuk 12 Anak Yatim

Metro5 Dilihat

BATU BARA — Botol plastik, kaleng, dan kardus bekas di MIS Al Mukhlisin, Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, bukan lagi sampah.

Sejak program “Sedekah Sampah Bantu Anak Yatim Sekolah” berjalan, 248 siswa dari kelas 3–6 mengumpulkan sampah anorganik tiap pekan.

Hasil penjualannya tidak masuk tabungan pribadi, tetapi dihimpun sebagai sedekah untuk membantu kebutuhan pendidikan 12 siswa yatim dari keluarga kurang mampu.

Program diinisiasi Bank Sampah Berseri, kelompok binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), bersama MIS Al Mukhlisin. Sampah dikumpulkan di tiap kelas, lalu ditimbang petugas setiap Rabu dan Sabtu sebelum dijual ke bank sampah.

BACA  Sengketa dengan Inalum, PT SSE Minta Perhatian Istana

Targetnya 35 kilogram per bulan. Dana yang terkumpul dibelikan tas, sepatu, seragam, atau kebutuhan sekolah lain.

Kepala Departemen Pemberdayaan Masyarakat INALUM, Ali Hasian, menilai program sederhana tetapi berdampak ganda: anak belajar memilah sampah sekaligus berbagi.

“Sampah yang dianggap tidak bernilai ternyata bisa membantu pendidikan anak yatim dan kurang mampu,” ujarnya.

BACA  Deli Serdang Jadi Rujukan Bandung Kelola Kawasan Bandara dan Industri

Pembina Bank Sampah Berseri, Dedi Syahputra, menegaskan sedekah tidak harus uang.

Baca Juga : Bukan Cuma Janji! Rico Waas Pangkas Keluhan Sampah Medan dengan 177 Armada Baru, Warga: Akhirnya!

“Anak-anak bisa membantu teman dan bertanggung jawab dengan sampahnya,” kata dia. Kepala MIS Al Mukhlisin, Devi Apriani, menyebut hasil bank sampah akan dibelikan tas sekolah atau sepatu yang bermanfaat bagi siswa yatim.

Yang membedakan ini bukan bank sampah dengan tabungan individu, melainkan gerakan sedekah kolektif berbasis sekolah. Bank Sampah Berseri juga mengembangkan ekonomi sirkular lewat hidroponik, ayam petelur, maggot, dan perikanan.

BACA  Kejatisu Telaah Laporan Dugaan Korupsi di Inalum, Tunggu Arahan Kajati

Bupati Batu Bara Baharuddin Siagian menilai sistem inovatif karena menghubungkan kegiatan produktif yang saling mendukung.

Bagi INALUM, program ini bagian dari pemberdayaan masyarakat yang mendorong kepedulian lingkungan, kemandirian ekonomi, dan manfaat sosial berkelanjutan.

Ke depan, inisiatif ini diharapkan menjadi contoh bagi sekolah lain: sampah bisa menjadi sumber daya, dan kepedulian bisa dimulai dari kelas. (Rel)