Ilustrasi
JAKARTA – Nyepi di Bali, mungkin sunyi. Tapi di Nyon, Swiss, gemuruh pesta atau punahnya asa tim-tim besar Eropa baru saja dimulai.
Drawing babak 16 besar Liga Champions yang digelar Jumat (27/2/2026) waktu setempat telah merampungkan teka-teki. Hasilnya?
Sebuah peta jalan menuju Munich (lokasi final) yang terhampar jelas, dan satu tim diprediksi bakal melaju mulus bak melintasi jalan tol bebas hambatan: Arsenal.
Sementara rival-rival sekota dan senegara harus bersiap beradu fisik dengan monster Eropa, The Gunners justru mendapat undian yang terbilang… istimewa. Tapi benarkah ini berkah, atau justru jebakan?
Mari kita lihat peta persaingan. Jika langit di atas London utara terlihat cerah, maka badai sedang mengancam barat dan timur ibu kota.
Chelsea harus pasang badan menghadapi gempuran bintang Paris Saint-Germain. Laga ini tak ubahnya final dini yang sarat gengsi dan kualitas individu.
Di utara Inggris, Manchester City kembali dipertemukan dengan raja Eropa, Real Madrid. Laga ini sudah menjadi agenda wajib setiap musim, dengan drama dan intensitas yang tak pernah gagal menghibur.
Lalu, ada Liverpool yang kembali bersua dengan algojo mereka di fase grup? Tidak. Kali ini, The Reds akan meladeni Galatasaray. Meski namanya mungkin tak semenyeramkan Madrid, atmosfer Ali Sami Yen adalah neraka tersendiri yang siap menelan para pemain berkostum merah.
Tottenham Hotspur juga tak kalah panas. Mereka ditantang kuda hitam asal Spanyol, Atletico Madrid milik Diego Simeone. Filosofi “partido a partido” ala Cholo akan diuji dengan kegigihan ala Ange Postecoglou.
Sementara itu, Newcastle United sepertinya memang berjodoh dengan raksasa Katalan. Usai bertemu di fase grup, Barcelona kembali menjadi tamu di St. James’ Park.
Di tengah hiruk-pikuk undian berat itu, nama Bayer Leverkusen keluar sebagai lawan Arsenal. Namanya mungkin asing bagi generasi baru, tetapi statistik berbicara lain.
Terakhir kali kedua tim bertemu di kompetisi Eropa adalah pada tahun 2002 silam—saat itu Arsenal menang telak 4-1. Namun, dunia telah berputar 24 kali.
Lantas, mengapa Arsenal disebut di atas angin? Jawabannya ada pada kondisi terkini lawan. Leverkusen musim ini ibarat raja tanpa mahkota. Mereka tampil angin-anginan.
Kepergian Xabi Alonso ke Liverpool menyisakan lubang besar di taktik dan mental tim. Ditinggal pula oleh sejumlah pilar yang menjadi fondasi kejayaan musim lalu, Die Werkself kehilangan konsistensi dan “Aura Juara” mereka.
Di sisi lain, Arsenal sedang dalam performa treble-worthy. Mereka digdaya di Premier League dan kokoh di semua ajang.
Keuntungan Arsenal tak berhenti di babak 16 besar. Jika berhasil melewati Leverkusen, di perempat final mereka sudah ditunggu oleh pemenang laga Bodo/Glimt vs Sporting CP.
Dua tim ini tentu tak bisa diremehkan, tetapi jika berbicara di atas kertas, nama, dan kedalaman skuad, Arsenal tetap menjadi favorit mutlak untuk melenggang ke semifinal.
Andai terus melaju, calon lawan di semifinal adalah pemenang dari “zona neraka” lainnya: pertemuan Barcelona vs Newcastle yang akan berhadapan dengan pemenang Atletico Madrid vs Tottenham Hotspur.
Artinya, Arsenal hanya perlu melewati satu “tim besar” untuk mencapai final, itupun di babak semifinal.
Dengan jalur undian semulus ini, publik mulai memasang target. Minimal, Mikel Arteta harus bisa membawa anak asuhnya mengulang pencapaian musim lalu, yaitu tembus semifinal.
Lebih dari itu, mimpi untuk melaju ke final dan mengangkat trofi Si Kuping Besar bukan lagi sekadar utopia.
Musim lalu, langkah Arsenal terhenti di tangan PSG dengan agregat 1-3. Ironisnya, PSG-lah yang kemudian menjadi juara.
Kini, dengan jalan yang terhampar indah, mampukah Bukayo Saka dkk melangkah lebih jauh dan menuliskan sejarah baru? Ataukah “jalur mudah” justru akan menjadi bumerang dan jebakan bagi The Gunners? Kita tunggu saja aksinya di lapangan hijau. (FD)