MEDAN – Ketahanan pangan warga Kota Medan kini berada dalam bayang-bayang kecemasan. Sudah sepekan terakhir, stok komoditas minyak goreng bersubsidi, Minyakita, dilaporkan menghilang dari peredaran di pasar-pasar tradisional. Kelangkaan ini bukan sekadar urusan dapur yang terganggu, melainkan alarm bagi stabilitas ekonomi kota yang bisa memicu panic buying jika tidak segera ditangani.
Ketua DPC Macan Asia Indonesia (MAI) Kota Medan, Suwarno, didampingi Sekretaris Zullifkar AB dan Bendahara Said Ilham Assegaf, menyoroti tajam fenomena ini dalam keterangannya pada Kamis (9/4/2026). Suwarno mengungkapkan bahwa di tingkat pedagang sudah mulai kesulitan mendapatkan stok minyak. Imbasnya, harga Minyakita di luar penjualan di pasar, telah menembus angka yang tidak masuk akal.
”Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Saat ini di luaran sana, pasarannya harga satu kotak mencapai Rp225.000, padahal harga normalnya berada di angka Rp185.000. Ada selisih Rp40.000 yang sangat membebani masyarakat,” ujar Suwarno.
Kenaikan drastis ini, kata Suwarno, bisa saja ditengarai dipicu oleh sentimen global akibat memanasnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel yang mengganggu rantai pasokan. Namun, bagi MAI Medan, alasan eksternal tersebut tidak boleh dijadikan pembenaran atas kekosongan stok di daerah.
Merespons situasi tersebut, MAI Medan mendesak Bulog untuk tidak berpangku tangan. Perlu ada langkah antisipatif yang konkret guna memastikan stok di pasar tetap terjaga dan harga kembali stabil. Jika kelangkaan ini terus dibiarkan tanpa intervensi, dikhawatirkan akan terjadi efek domino terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya, yang pada akhirnya akan memperburuk tingkat inflasi di Medan secara khusus dan Sumatera Utara secara umum.
”Bulog harus segera turun tangan. Jangan tunggu sampai terjadi inflasi besar yang menghimpit warga Medan. Justru disaat-saat kritis seperti ini, harus dipastikan stok aman di pasar agar kepercayaan publik tetap terjaga,” tegas Suwarno. (Red)












