Bukan Dibui, 10 Remaja Tawuran di Depok Langsung “Disekolahkan” ke Pesantren Kilat Polres

Metro24 Dilihat

DEPOK – Polres Metro Depok mengambil langkah tegas namun humanis terhadap aksi kenakalan remaja yang kerap meresahkan.

Sepuluh remaja yang diamankan usai terlibat tawuran di wilayah Cipayung, Pancoran Mas, tak langsung digelandang ke sel tahanan. Mereka justru “disekolahkan” ke pesantren kilat yang digelar di lingkungan Polres.

Langit masih gelap saat 10 remaja itu diamankan aparat di Jalan Rawasari 2, Cipayung, pada Sabtu (21/2/2026) dini hari pukul 01.30 WIB. Biasanya, operasi cipta kondisi seperti ini berujung pada proses hukum konvensional.

Namun kali ini berbeda. Para remaja yang nyaris tersesat dalam lingkaran kekerasan jalanan itu justru dibawa ke Masjid Polres Metro Depok untuk mengikuti program pembinaan intensif.

Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Made Budi, mengonfirmasi bahwa kesepuluh pelajar tersebut langsung diikutsertakan dalam program pesantren kilat yang memang sengaja dirancang khusus selama bulan suci Ramadan.

Baca Juga : Jauhi Tawuran dan Narkoba, Kapolda Sumut Gebrak Generasi Emas SMA 1 Medan

“Iya benar, 10 remaja yang diamankan karena tawuran sudah menjalani pesantren kilat. Mereka dibina di Masjid Polres, bukan di sel tahanan. Ini bentuk pendekatan restorative justice dan pembinaan karakter,” ujar Made saat dikonfirmasi, Minggu (22/2/2026).

Orang Tua Dilibatkan, Salat Wajib Jadi Prioritas

Yang menarik dari program ini adalah keterlibatan aktif orang tua. Proses pendataan dilakukan secara transparan dan disaksikan langsung oleh masing-masing orang tua remaja. Polisi ingin memastikan bahwa pembinaan tidak hanya berlangsung di lingkungan pesantren, tetapi juga berlanjut di rumah.

“Kita data ulang, kita libatkan orang tua. Mereka menyaksikan sendiri anak-anaknya mengikuti salat lima waktu berjamaah. Ini penting agar mereka ingat kepada Allah SWT dan kembali ke fitrah Ramadan,” tambah Made.

READ  Pj Sekda Sumut Terima Laporan Kinerja Komisi Informasi 2025, Bahas Perpanjangan Masa Jabatan Komisioner

Bimbingan Spiritual hingga Motivasi Masa Depan

Tak hanya sekadar salat berjamaah, para remaja ini juga mendapat pendampingan khusus dari Kasat Binmas dan Kanit Bintibsos Polres Metro Depok. Mereka diberikan pemahaman tentang konsekuensi hukum tawuran, bahaya kekerasan bagi masa depan, serta pentingnya menghargai kasih sayang orang tua.

Suasana kian syahdu saat Ketua DKM Masjid Al Ikhlas, AKP H. Saimun, bersama Aiptu Mulyasari, duduk melingkar membimbing para remaja membaca Alquran.

Jari-jari yang mungkin terbiasa mengepal kini diajari memegang mushaf dan melafalkan ayat suci.

“Kami beri arahan, penyuluhan, dan ajak mereka membaca Alquran. Harapannya, mereka tidak hanya kapok, tapi juga berubah menjadi lebih baik,” jelas Made.

Program Strategis Tekan Angka Tawuran di Depok

Program pesantren kilat ini sebenarnya telah dirancang jauh hari. Kapolres Metro Depok, Kombes Abdul Waras, sebelumnya sudah menyatakan keprihatinannya terhadap tingginya potensi tawuran di kalangan remaja Depok. Ramadan dianggap sebagai momentum tepat untuk “membakar habis” perilaku negatif dengan siraman rohani.

“Kami ingin mengurangi niatan anak-anak kita untuk tawuran. Ini sangat merugikan lingkungan dan masyarakat. Jika mereka masih nekat, kami masukkan ke pesantren kilat. Tapi ingat, ini untuk kebaikan mereka, bukan hukuman fisik,” tegas Kombes Abdul Waras saat sosialisasi program beberapa waktu lalu.

Dengan pendekatan soft approach ini, Polres Metro Depok berharap para remaja tak lagi menjadi momok menakutkan di lingkungannya, melainkan bisa menjadi pelopor ketertiban.

Ramadan tahun ini pun menjadi saksi bagaimana hukum ditegakkan dengan hati, bukan hanya dengan jeruji besi.

Program pesantren kilat di Polres Metro Depok menjadi solusi inovatif dalam menangani kenakalan remaja. Kombinasi antara pendekatan spiritual, keterlibatan orang tua, dan pembinaan mental diharapkan mampu menekan angka tawuran di Kota Depok secara signifikan. (FD)