Breaking News: AS dan Israel Lancarkan Operasi Epic Fury ke Iran, Targetkan Pemimpin Tertinggi!

Headline4 Dilihat

TEHERAN, IRAN – Dunia dikejutkan oleh gempuran militer besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, Sabtu (28/2/2026).

Operasi yang diberi nama sandi “EPIC FURY” oleh Pentagon ini tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi secara spesifik menargetkan para pemuncak pimpinan tertinggi Iran.

Konflik yang memicu ketegangan global ini dipicu oleh serangan udara dan laut masif yang dikonfirmasi langsung oleh Presiden AS Donald Trump.

Dalam pernyataan dramatisnya, Trump menyebut serangan ini bertujuan untuk “mengakhiri ancaman keamanan terhadap AS” dan secara terbuka mendesak rakyat Iran untuk memanfaatkan situasi demi “menggulingkan rezim yang berkuasa.”

Ia mengingatkan kembali sejarah pahit penyanderaan di Kedutaan AS tahun 1979 sebagai latar belakang perseteruan panjang ini.

Sumber-sumber intelijen yang mengetahui langsung jalannya operasi mengungkapkan bahwa target utama serangan gelombang pertama adalah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dan Presiden Masoud Pezeshkian.

Baca Juga : Putra Mahkota Reza Pahlavi Serukan Transisi Besar, Respons Gelombang Protes di Iran

BACA  Terbongkar! SP3 Kasus Nikel Konawe Utara 'Disimpan' 21 Hari oleh Pimpinan KPK Lama

Meski demikian, nasib kedua pemuncak tersebut masih belum jelas. Reuters melaporkan, berdasarkan sumber terpercaya, Khamenei telah dipindahkan ke lokasi aman sebelum serangan dilancarkan dan dipastikan tidak berada di Teheran.

Bentrokan Sengit dan Dampak Regional yang Meluas

Tak tinggal diam, Teheran langsung membalas dengan tembakan rudal balistik ke arah Israel. Gelombang ledakan juga dilaporkan mengguncang sejumlah negara Arab Teluk, termasuk UEA, Bahrain, dan Qatar.

Abu Dhabi dan Dubai menjadi saksi kepulan asap dan suara ledakan keras, diiringi patroli jet tempur di langit Pulau Yas. Bahrain mengonfirmasi bahwa pusat layanan Armada Kelima AS menjadi target rudal, sementara Qatar menyatakan berhasil mencegat rudal yang masuk dan berhak melakukan serangan balasan.

Sumber internal Iran menyebutkan, serangan balasan ini baru awal. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengancam akan membidik semua pangkalan dan kepentingan AS di kawasan hingga “musuh dikalahkan secara telak.”

Situasi kian mencekam dengan laporan korban jiwa. Media pemerintah Iran memberitakan setidaknya 40 orang tewas dalam serangan di sebuah sekolah dasar putri di selatan Iran, sebuah klaim yang hingga kini masih belum dapat diverifikasi secara independen.

BACA  Piche Kota Tersangka! Penyanyi Indonesian Idol Terjerat Kasus Asusila Anak di NTT

Sumber lain yang dekat dengan pemerintahan menyebutkan beberapa komandan senior Garda Revolusi dan pejabat politik juga tewas dalam gempuran tersebut.

Dampak Ekonomi dan Krisis Kemanusiaan

Krisis ini langsung memicu kekhawatiran global akan lonjakan harga minyak. Mengingat Iran mengekspor 90 persen minyak mentahnya melalui Pulau Kharg yang kini menjadi zona bahaya, analis Rystad Energy, Jorge Leon, memprediksi harga minyak Brent berpotensi melonjak drastis hingga $10–$20 per barem dalam waktu dekat jika tidak ada upaya de-eskalasi.

Di dalam negeri Iran, kepanikan mulai terlihat. Warga bergegas ke bank untuk menarik uang tunai dan mengantre panjang di pompa bensin.

Banyak yang khawatir akan potensi pemadaman internet yang memutus komunikasi dengan keluarga di luar negeri. “Kami adalah korban dari kebijakan bermusuhan rezim ini dan Israel,” ujar Maryam (54), seorang warga Teheran yang mengungsi ke utara Iran bersama keluarganya.

BACA  Prabowo Bertemu Pimpinan Ormas Islam, Jelaskan Alasan RI Masuk Board Of Peace

Harapan Diplomasi Sirna, Ancaman Perang Panjang Membayang

Serangan ini menghancurkan harapan tipis solusi diplomatik atas sengketa nuklir Iran. Perundingan tidak langsung yang baru saja gagal mencapai terobosan pekan ini berakhir tragis dengan pecahnya perang terbuka.

Israel, melalui Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mendukung penuh aksi ini dan menyerukan rakyat Iran yang “pemberani” untuk mengambil alih nasib mereka sendiri.

Militer Israel telah menutup ruang udaranya untuk penerbangan sipil, menutup sekolah, dan tempat kerja. Di sisi lain, kelompok bersenjata pro-Iran di Irak, Kataib Hizbullah, bersiap menyerang pangkalan-pangkalan AS.

Dengan kampanye militer AS yang diperkirakan berlangsung selama beberapa hari ke depan, dunia kini menanti babak selanjutnya dari konflik dahsyat yang berpotensi menggambar ulang peta geopolitik Timur Tengah. Apakah ini awal dari perang regional besar-besaran? (FD)