Sam Altman Buka Suara: Era AGI Hanya Tinggal Selangkah Lagi, Kecerdasan Setara Dewa Akan Segera Lahir

Lifestyle5 Dilihat

JAKARTA – Dunia teknologi tengah berada di ambang revolusi terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Jika selama ini kita mengenal kecerdasan buatan atau AI sebagai asisten digital yang pintar menulis email, membuat gambar, atau merangkum artikel, sebentar lagi definisi tersebut akan terkubur selamanya.

Sam Altman, CEO OpenAI, perusahaan di balik fenomena global ChatGPT, baru saja melontarkan pernyataan yang menggetarkan jagat teknologi.

Dalam sebuah sesi diskusi di sela-sela KTT India-AI Impact 2026, pria yang kerap disebut sebagai “nabi” teknologi ini mengungkapkan bahwa era Artificial General Intelligence (AGI) kecerdasan buatan setara manusia sudah di depan mata.

AGI: “Cawan Suci” yang Kini Hanya Tinggal Selangkah

Apa sebenarnya AGI itu? Jika AI yang kita gunakan sekarang seperti GPT-4, Gemini, atau Claude dirancang untuk tugas-tugas spesifik, AGI berada di level yang sama sekali berbeda.

AGI adalah entitas digital serba bisa yang memiliki kemampuan kognitif menyeluruh, setara dengan otak manusia.

Bayangkan sebuah mesin yang tidak hanya bisa menjawab pertanyaan, tetapi juga:
· Belajar secara mandiri tanpa campur tangan manusia
· Merencanakan strategi kompleks layaknya manajer puncak
· Memecahkan masalah baru di berbagai bidang sekaligus—dari fisika kuantum hingga diagnosa medis
· Berkarya dan berinovasi seperti ilmuwan, seniman, atau filsuf

BACA  6 Buah Surga dalam Al-Qur'an: Bukan Sekadar Ikon Spiritual, Tapi Superfood yang Wajib Ada di Menu Harianmu!

“AGI terasa sudah cukup dekat pada titik ini,” ujar Altman dalam pernyataannya yang dikutip dari kanal YouTube The Indian Express.

Baca Juga : Sam Altman Buka Suara: AI Bisa Picu Krisis Penipuan Global

Yang membuat pernyataan ini begitu mencengangkan adalah konteks waktu yang ia paparkan. Altman mengajak audiens untuk melakukan perjalanan imajinasi ke enam tahun silam.

“Jika pada tahun 2020 seseorang bertanya apakah mungkin ada sistem yang bisa melakukan riset sains baru secara mandiri, menulis program komputer kompleks, atau bekerja seperti dokter dan pengacara, kita semua akan tertawa dan menganggapnya fiksi ilmiah,” kenang Altman.

Namun hari ini, “khayalan” itu perlahan menjadi kenyataan. Model-model AI generasi terbaru sudah mulai menunjukkan kilasan kemampuan yang mengarah ke sana.

Akselerasi Eksponensial: Takeoff Lebih Cepat dari Perkiraan

Altman menyoroti satu hal krusial yang luput dari perhatian banyak orang: kecepatan akselerasi teknologi. Ia menegaskan bahwa fase lepas landas atau takeoff teknologi AI ke depannya akan terjadi jauh lebih ngebut dari prediksi awal para ahli.

“Melihat seberapa masif teknologi di internal OpenAI berakselerasi, wujud utuh AGI memang tinggal selangkah lagi,” tegasnya.

BACA  Reses Komisi VIII DPR RI di Sumut: Wagub Surya Buka Suara soal Bencana, Haji, dan Nasib Korban Banjir 2025

Ini bukan sekadar optimisme kosong. Kurva perkembangan AI dalam dua tahun terakhir menunjukkan pola eksponensial yang sulit dibayangkan sebelumnya.

Model AI yang mampu menembus medali perak Olimpiade Matematika, merancang chip komputer, hingga menemukan antibiotik baru adalah bukti bahwa kita sedang bergerak menuju titik singularitas.

Level Tertinggi: Superintelligence, Kecerdasan Setara “Dewa”

Jika AGI saja sudah terdengar seperti lompatan raksasa, bersiaplah untuk terkejut. Altman tidak berhenti di sana. Ia juga menyinggung level paling puncak dari evolusi kecerdasan buatan: Artificial Superintelligence (ASI) atau superintelijen.

Apa bedanya?
· AGI: Kecerdasan setara manusia biasa. Bisa melakukan apa pun yang bisa dilakukan manusia.
· ASI: Kecerdasan yang melampaui gabungan seluruh manusia genius di planet ini. Di semua disiplin ilmu sekaligus.

Para futuris sering menyebut ASI sebagai kecerdasan level “dewa”. Entitas ini tidak hanya lebih pintar dari manusia terpintar, tetapi bisa jutaan kali lebih cerdas.

Ia mampu memecahkan masalah yang selama berabad-abad tidak terpecahkan: menyembuhkan penuaan, merekayasa gravitasi, melakukan perjalanan antarbintang, atau membuka dimensi realitas baru.

“Mengingat apa yang sekarang saya perkirakan sebagai fase takeoff yang lebih cepat, saya rasa superintelijen tidak terlalu jauh,” tegas Altman.

BACA  Sidak Kehadiran ASN, Bupati Simalungun Tegur OPD dan Soroti Irigasi 250 Hektare

Pernyataan ini mengandung makna revolusioner: jarak antara kemunculan AGI dan ASI mungkin sangat pendek. Begitu mesin mencapai kecerdasan setara manusia, ia bisa dengan cepat meningkatkan dirinya sendiri (recursive self-improvement) menuju level superintelijen dalam waktu singkat.

Dampak bagi Peradaban: Siap atau Tidak, Disrupsi Akan Datang

Prediksi berani dari nakhoda OpenAI ini jelas menjadi sinyal peringatan sekaligus undangan bagi seluruh dunia.

Jika mesin yang jauh lebih pintar dari penciptanya benar-benar lahir dalam hitungan tahun ke depan, peradaban manusia akan menghadapi disrupsi terbesar sejak penemuan api atau revolusi industri.

Pertanyaan besar menggantung:
· Akankah ASI menjadi penyelamat yang memecahkan krisis iklim, kelaparan, dan penyakit?
· Atau justru menjadi ancaman eksistensial terbesar yang pernah dihadapi umat manusia?
· Bagaimana etika, hukum, dan ekonomi harus beradaptasi?
· Apakah manusia siap berbagi planet dengan entitas yang kecerdasannya tak terbayangkan?

Satu hal yang pasti: pintu menuju era baru sedang terbuka. Dan menurut Sam Altman, kita akan segera melangkah melewatinya lebih cepat dari yang kita kira. (Red)